Sayang, bukan segala yang ku punya adalah awal dari hidupku.
Menggembirakan ketimbang berhalusinasi di masa kesulitanku.
Inilah air dikediaman surga yang tak pernah murka.
Aku?
Hendak kutampar mereka yang tak punya mulut untuk mengais hati.
Ingin ku caci maki yang tak punya nyali bak lautan darah.
Bukan, bukan sembarang aku memilih untuk bertahan .
Bukan, bukan sembarang aku memilih untuk bertahan .
Mau ku berpusat apa kelemahan.
Kemauanku adalah menyadari betapa pentingnya aku untuk bersandar.
Tidak menyeringai seperti kail tanpa umpan.
Semua sedia payung sebelum hujan.
Tapi aku rapikan sebelum mereka datang.
Aku menempis sakit tertimpa badai yang begitu hebat didepan mata.
Juga menghalau semua kesederhanaan dari kekuatan.
Beginilah perasaan akan hancurnya tak punya apa-apa.
Berulang kali bertanya "mengapa garis telapakku lurus tanpa pisah?"
Selalu terkuak menjadi yang terindah pada setiap turunnya pagi buta.
Setiap langkah hati yang meninggalkan bau.
Bagai hening tertelan siangnya alam.
Semerah mawar beselimutkan rasa sakit.
Tidak ada keheningan ketika malam datang.
Telinga mendengar dengan seksama.
Mata terpejam melanjutkan.
Aku tidak mengenai apa yang harusnya aku kenai.
Hanya kesempatan yang selalu kutiduri.
Aku tidak menghasilkan garis lurus ketika kulontarkan panah.
Ilusi yang memuakkan.
Dekade yang melelahkan.
Terkadang orang hanya bebual tak sependapat dengan lahirnya Sang.
Terombang ambing hingga langit ketujuh tak bertujuan.
Ting Tong
Sungguh, bukan sesuatu yang membanggakan dalam mimpiku.
Sungguh, bukan sesuatu yang membanggakan dalam mimpiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar