Kau tahu ranting apa yang aku inginkan?
Bukan yang kokoh yang aku inginkan.
Bukan yang berkualitas bagus.
Bukan yang besar.
Bukan yang panjang.
Bukan yang mudah patah.
Tapi...
Yang rapuh, yang jelek, yang bengkong, yang hitam, yang pendek, yang terkikis oleh waktu adalah ranting yang bisa menopangku saat ini dan untuk yang akan datang.
Nantinya di tengah dari diameter ranting itu akan ku tancapkan sebuah 2 buah bulu burung merpati yang halus, putih, bagus, panjang dan bersih.
Itu kenangan kita.
Tahu apa yang bisa dilihat dari situ?
Aku disini bukan wanita yang ingin menampilan sebuah drama dimana aku bukan pemeran utama.
Kau...
Aku ingin merubah mu dari yang tak terlihat hingga akhirnya terlihat dengan cukupjelas.
Aku bukan orang yang ingin memenangkan perselisihan dengan cara merobek mulut sendiri.
Kau...
Aku ingin membawa kau melintas dimana tak seorang pun bisa menggapaimu.
Sayangnya...kekuatanku tidak bisa melakukan itu.
Hidupku tidak direncakan untuk itu.
Rencanaku pun bukan untuk itu.
Tapi kehidupan cintaku membawa ku untuk melakukan itu dan masuk kedalam dunia dimana aku harus disiksa.
Aku harus dicambuk.
Aku harus melawan.
Aku harus bertahan.
Dan...aku harus terus tersakiti oleh benda tak tampak.
Aku hidup sendiri memang.
Aku memikul sendiri memang.
Aku selalu memilih memang.
Tapi pilihan ku jelas untuk memilih dirimu dimana kau, rantingku, bisa menyanggahku disaat aku tidak bisa menggapai langit-langit kamarku supaya aku bisa menaruh kenangan kita di atas kepalaku yang bersandar pada cermin hitam...
(Untuk "DIA" yang selalu ada dihatiku, yang mampu membuat aku menangisi indahnya malam karena tersakiti. Oktober 2010 Yogyakata)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar