Jumat, 26 Juli 2019

Jika kata-kata yang bisa menjernihkan, maka kutuang pemikiran sempitku dalam cerita.
Setiap kata ini membumbung di kepala ku berlomba keluar melalui mulutku.
Menentang kecilnya pita suaraku untuk melukai mulut seseorang.
Jika kita telusuri  lelahkan tujuan kita melingkar menemukan jawanban.
Fisikku berbeda dengan yang ada dipikiranmu.
Visiku jauh temangsang di ubun senja.

Intinya :
Jika kamu ingin bersatu visi denganku, bukan maksudku menunda, Mas. Aku juga punya latar belakang yang hanya 1:1.000.000.000 orang didunia bisa menerima. Aku nggak akan bilang apa dan bagaimana. Aku hidup penuh dengan pengalaman dan pemikiran. Dunia terlalu sempit untuk memihakku saat ini. Siapa yang tidak ingin punya pasangan hidup satu untuk selamanya? Siapa yang tidak ingin sehidup semati? Aku salah satu yang sangat ingin dan membutuhkan jawaban itu, yang aku bilang aku ingin itu darimu. Namun, kita berbeda, Mas. Sisimu, sisiku, pandangan kita, tujuan kita, pemahaman kita, dan yang paling terlihat adalah Iman kita. Aku tidak bisa menjual agamaku untuk ucapan janji seseorang dan aku juga tidak ingin itu darimu. Tapi, aku bersedia punya cara lain jika dirimu bersedia. Aku ingin bersamamu. Aku ingin merajut perjalanan ini. Aku juga tidak memberikan janji apapun tapi memberikan langkahku. Jika kamu bisa mengesampingkan urusan Iman kita, aku bisa melakukan apapun untukmu, untuk kita. Aku tidak ingin membagi hidupmu menjadi sebuah kebimbangan. Aku yakin. Aku pasti. Aku kembalikan kepadamu. Jika ya, aku dengan senang hati dan aku tidak sabar untuk memulai. Jika tidak, biar ini menjadi urusan pekerjaan.