Sisaku...
Perhatikan setiap sudut ruang ini.
Hanya peluh cerita hiruk pikuk kenyataan.
Kurangnya rasa peka dari mereka begitu menempa.
Begitu terasa hingga membentukku ke polanya.
Terengah menantikanku hidup dan menyala.
Ditempa, ditempa, ditempa.
Itu yang harus aku rasakan.
Pergumulan ini menaruh asa.
Terkadang aku sanggup, terkadang hanya berbual.
Maukah dirimu dengan aku yang seperti ini?
Menarikkah dirimu? Ya...
Aku berharap tidak dengan buaian.
Aku cukup terpengaruh.
Aku cukup mengerti.
Tidak semudah itu mendaki perjalanan ini.
Aku harus jatuh berulang kali.
Aku harus terjungkal.
Denganmu aku harus tertatih.
Kau biar...biarkan aku.
Tidak...tidak.
Kau memelukku dan langsung mendorongku.
Tidak mengerti betapa pentingnya ini.
Bukan untukmu. Untukku.
Sebab itu kau lepas begitu saja.
Aku cukup mengerti walaupun tak sepadan.
Tapi aku membutuhkan.
Akan kulakukan hal yang sama jika perlu.
Perlu pertahankanmu.
Perlu membuatmu tetap tinggal.
Ikut campur dalam tempaanku.
Bukan karena aku inginkan sesuatu.
Karena aku ingin kau tetap tinggal. Disini.
Bukan untuk mengerti atau apapun.
Hanya ikut ke tempaanku.
Bantu mereka yang menempaku.
Bukan melihat hasilku.
Tapi ikut dalam diriku.
Ikutlah...
Ikut dalamku.
Masuki aku.
Tidak sepudar keluhmu.
Keringatmu adalah jerihmu membentukku.
Ikutlah...
Agar tetap tinggal.
Disini...
Permulaan bukan segalanya, maka dari itu ada kekuatan agar terus berdiri supaya bisa mencapai akhir.
Jumat, 06 Februari 2015
Kamis, 22 Januari 2015
Cobaku Mengertimu
Aku tidak harus munafik. Aku tidak harus bermuka dua. Aku tidak perlu meyakinkan diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tidak sebodoh itu untuk menyayangimu. Aku tidak sepicik penjahat yang mencoba merenggutmu. Aku tidak sedendam itu. Aku tidak semarah itu. Aku tidak seresah itu untuk kehilanganmu. Aku hanya takut. Aku takut jika tidak bisa lagi menyayangimu setelah ini. Aku takut tidak bisa lagi menerimamu. Aku hanya takut memori perjalanan kita terhapus begitu saja. Aku tidak ingin masa ini menggerogoti jalan kita masa dulu. Aku tidak ingin warna-warnanya terlubangi. Aku tidak ingin apa yang telah kita lakukan menghasilkan arah yang salah. Aku hanya berontak karena aku tidak sanggup kita terpisah. Aku hanya bisa mengais serpihan kejayaan kita. Aku hanya mencari dimana yang salah. Bukan salahmu. Bukan kekeliruanmu. Bukan batasanmu. Tapi aku. Apa aku pernah melakukan hal yang sama terhadapmu? Apa aku pernah menyakitimu dan lupa katakan maaf? Apa sering aku memumpahkan air keras ke hidupmu? Apa aku terlalu arogan terhadapmu? Apa aku mengajari mu yang salah? Apa aku... Apa aku... Apa aku... Apa aku terlalu sayang padamu? Apa aku tidak bisa menutupi kekuranganmu? Aku hanya sayang padamu. Kau yang utama. Kau yang ada disisiku. Apa kau merasakan yang sama? Terhadapku? Jangan pergi, teman. Aku membutuhkanmu sebagai temanku.
Karena aku tidak punya teman sepertimu lagi. Mengertilah... Aku ingin hidup dengan semuamu.
Langganan:
Komentar (Atom)