Anggap saja aku bergurau dengan api karena ketika aku bermain dengannya, aku bisa melupakan masa-masa dimana aku didesak oleh hati yang tidak tahu arah tujuannya. Sejauh ini, api itu berbaur dengan apik. Dia memahamiku dengan ketangguhannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana akhir dari ini. Akankah dia juga akan memangsaku dengan lidahnya? Atau langsung menghanguskanku menjadi abu?
Aku sendiri mempunyai tujuan. Aku lelah menghadapi ketidakmampuannya membenahiku. Aku menahan semua kesukaran. Aku menolak semua ajakan bicara semua orang hanya untuk memperhatikan dia. Aku tidak bisa menuai apa yang telah aku tanam. Kemilau itu hanya sesaat.
Ketika memang bisa aku bicara dengan Tuhan secara langsung, aku sanggup berkomentar dihadapannya dengan bahasaku sendiri. Akan aku bahas betapa jelinya Dia membuat 'creature' dengan segala perlengkapannya. Kemolekkannya membuat mata ini terlalu menyayanginya. Cerahnya membuat hati ini begitu kaku untuk mencari tempat naungan lain.
Jalanku sudah begini. Ketika aku berjanji untuk bersatu dengan apa yang aku mau, tidak akan mudah aku lepas. Ketika aku sudah mencari dan dapat, tidak akan mudah untuk aku buang. Aku sudah banyak bermain api. Dari api yang biasa aku temui sampai api yang aku tahu memang sangat berbahaya. Caraku hanya ingin berjalan dengan baik dan kemudian mencari lemari yang bagus untuk menaruh sayatan-sayatan benang putih begitu dengan gandengannya.
Tapi jika memang itu terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar