Senin, 18 Juni 2012

Kau yang Tahu

Semuanya terlihat hanya dari posisiku...
Lalu akan aku bahas jika aku dalam posisimu.
Karena aku tahu, ini adalah rasa asaku.
Lihat ?
Kau rasa ?
Inilah aku.
Jika memang benar kita tidak berbeda, boleh aku berharap.
Berharap akan menemukan 1000 tahun untuk selalu menemani.
Menemani sesuatu yang ada dibalik tubuh itu.
Menemani segala yang ada didalam tubuh itu.
Artinya aku mencintai 1 dari semua yang aku cinta.
Dibalik itu semua hanya seseorang yang mampu datang.
Yang mampu datang untuk tahu dan mengerti.
Yang besedia datang dan membawakan aku sejumput kehangatan.
Aku belajar.
Karena ketika aku mendekati satu, artinya 0.0000...1 adalah ketidak sempurnaanku.
Dan 9.9999...9 adalah caraku mendekat ke hatimu.
Mendekat ke semua impian seorang wanita.
Dimana aku sudah tahu aku pasti mencintaimu.
Mencintai seseorang yang bersedia berjalan bersamaku dalam rel.
Rel kehidupan yang hanya ada kau dan aku.
Dan ditengah-tengahnya adalah renggangan yang akan kita mampu hadapi bersama.
Aku jatuh cinta.
Kepada hidupmu.
Kepada keperluanmu.
Jatuh cinta padamu.
Jika memang iya kita ini sama, akan aku coba untuk lebih ingin tahu tentangmu.
Jika memang tidak, entah apa yang harus aku lakukan kepada perasaan ini.
Kepadamu.
Pembicaraanku padaNya mungkin bisa berguna.
Tapi Dia tahu perasaan ini.
Sekarang memang hanya aku dalam posisimu.
Setelah ini aku akan coba berada di posisimu untuk tahu.
Tahu kau ada.
Tahu kau nyata dalam hidupku.
Dan aku tahu kita berdua nyata dalam perjalan kita.
Kau satu-satunya yang tahu aku dan ... cinta ini.

Sabtu, 16 Juni 2012

Ketika Aku Ingin Sendiri


Kau tahu ranting apa yang aku inginkan?
Bukan yang kokoh yang aku inginkan.
Bukan yang berkualitas bagus.
Bukan yang besar.
Bukan yang panjang.
Bukan yang mudah patah.
Tapi...
Yang rapuh, yang jelek, yang bengkong, yang hitam, yang pendek, yang terkikis oleh waktu adalah ranting yang bisa menopangku saat ini dan untuk yang akan datang. 
Nantinya di tengah dari diameter ranting itu akan ku tancapkan sebuah 2 buah bulu burung merpati yang halus, putih, bagus, panjang dan bersih.
Itu kenangan kita.
Tahu apa yang bisa dilihat dari situ?
Aku disini bukan wanita yang ingin menampilan sebuah drama dimana aku bukan pemeran utama.
Kau...
Aku ingin merubah mu dari yang tak terlihat hingga akhirnya terlihat dengan cukupjelas.
Aku bukan orang yang ingin memenangkan perselisihan dengan cara merobek mulut sendiri.
Kau...
Aku ingin membawa kau melintas dimana tak seorang pun bisa menggapaimu.
Sayangnya...kekuatanku tidak bisa melakukan itu.
Hidupku tidak direncakan untuk itu.
Rencanaku pun bukan untuk itu.
Tapi kehidupan cintaku membawa ku untuk melakukan itu dan masuk kedalam dunia dimana aku harus disiksa.
Aku harus dicambuk.
Aku harus melawan.
Aku harus bertahan.
Dan...aku harus terus tersakiti oleh benda tak tampak.
Aku hidup sendiri memang.
Aku memikul sendiri memang.
Aku selalu memilih memang.
Tapi pilihan ku jelas untuk memilih dirimu dimana kau, rantingku, bisa menyanggahku disaat aku tidak bisa menggapai langit-langit kamarku supaya aku bisa menaruh kenangan kita di atas kepalaku yang bersandar pada cermin hitam...



(Untuk "DIA" yang selalu ada dihatiku, yang mampu membuat aku menangisi indahnya malam karena tersakiti.       Oktober 2010 Yogyakata)

Diam Membawa Sakit yang Perih



Heiii...! 
Aku bukan seonggok direktur! Yang tidak butuh manusia lain...
Aku bukan seuntai daun gugur! Yang tidak lagi membutuhkan dahan...
Aku bukan peti mati! Dibutuhkan saat 1 manusia ingin menjadikan ku tempat nyaman...
Aku bukan pelacur! Yang bisa dipanggil jika ada maunya...

...aku manusia...

Waktu, emosi, naungan, pergaulan, penampilan, bahkan TUBUHku, aku berikan secara cuma-cuma.
2 setengah tahun aku begitu semangat menunggu.
2 setengah tahun aku terbelenggu dalam dosa.
2 setengah tahun aku menangis, meratapi indahnya.
2 setengah tahun aku menahan luka yang terperih!!!
2 setengah tahun aku berjalan dengan waktu dan tidak mendapat apa2.
2 setengah tahun aku sirami, aku rawat, aku jaga, aku perhatikan, aku berikan yang terbaik, aku belai, aku cium, aku cumbu, aku tangisi... aku mencintai ...
2 setengah tahun aku mengerti ada yang memiliki. Tapi berbeda dengan cinta yang aku miliki...
Dia hanya memanfaatkan.
Dia memperolok.
Dia menghakimi.
Dia memberiku benci.
Dia mengatai ku perebut pria atas wanita.
Dia penakut.
Dia bodoh.
Dia tidak mengerti kau.

...dia wanita sama seperti ku...

...tapi aku berikan yang berbeda...

Kau menangis?
Kau bimbang?
Kau dillema?
Kau tidak tahu apa yang harus dilakukan?
Kau egois!
Kau sama sekali tidak mengerti aku!
Kau sia2kan aku!

...kau berhasil merebut badanku...

Heiiiii...!
Aku butuh kau!
Duniaku berubah atas pertemuan kita!
Aku biarkan semua berjalan tidak baik dalam ku dan berjalan sesuai dengan harapanmu...

Menyesal?
Aku?
Aku menyesal?
Untukmu tidak ada kata yang aku terima selain "TIDAK APA-APA. HANYA UNTUK DIA. BIAR DIA SENANG"
Tapi dalam ku?
Mengertikah?
Habis manis sepah dibuang.
Dia menikmati tubuhku, aku dilepas hanya dengan keadaan diam...
Kasihan aku. Biar ku nikmati sampai hari ku tua dalam kesendirian.

Perlakuan Duniaku



Sayang, bukan segala yang ku punya adalah awal dari hidupku.

Menggembirakan ketimbang berhalusinasi di masa kesulitanku. 

Inilah air dikediaman surga yang tak pernah murka.

Aku?

Hendak kutampar mereka yang tak punya mulut untuk mengais hati.

Ingin ku caci maki yang tak punya nyali bak lautan darah.


Bukan, bukan sembarang aku memilih untuk bertahan .


Mau ku berpusat apa kelemahan.


Kemauanku adalah menyadari betapa pentingnya aku untuk bersandar.


Tidak menyeringai seperti kail tanpa umpan.

Semua sedia payung sebelum hujan.


Tapi aku rapikan sebelum mereka datang.


Aku menempis sakit tertimpa badai yang begitu hebat didepan mata.


Juga menghalau semua kesederhanaan dari kekuatan.

Beginilah perasaan akan hancurnya tak punya apa-apa.


Berulang kali bertanya "mengapa garis telapakku lurus tanpa pisah?"


Selalu terkuak menjadi yang terindah pada setiap turunnya pagi buta.


Setiap langkah hati yang meninggalkan bau.


Bagai hening tertelan siangnya alam.


Semerah mawar beselimutkan rasa sakit.

Tidak ada keheningan ketika malam datang.


Telinga mendengar dengan seksama.


Mata terpejam melanjutkan.


Aku tidak mengenai apa yang harusnya aku kenai.


Hanya kesempatan yang selalu kutiduri.

Aku tidak menghasilkan garis lurus ketika kulontarkan panah.

Ilusi yang memuakkan.


Dekade yang melelahkan.


Terkadang orang hanya bebual tak sependapat dengan lahirnya Sang.


Terombang ambing hingga langit ketujuh tak bertujuan.



Ting Tong
Sungguh, bukan sesuatu yang membanggakan dalam mimpiku.

Galau Ku Berbeda

Dengar Bapak, Ibu...

"Sejauh ini, yang terlintas didalam masa laluku adalah hal-hal baik tentangmu dan hal-hal yang buruk yang pernah aku lakukan padamu. Tak sedikitpun tertanam benih-benih jahat di otakku. Semua hanya sekejap mata. Begitu ingin diri ini bertemu hendak bercengkrama. Aku hanya mampu menemani kalian selama 18 tahun belakangan ini. Sungguh waktu sedetik yang tak pernah terbayangkan.

Andai kalian disini jauh lebih lama lagi, aku yakin, aku bisa menunjukkan dunia. Akan aku tunjukkan kota Dubai dengan seribu lampunya. Akan aku tunjukkan kota New York dengan gedung-gedung tingginya. Bila perlu dan jika memang ada, akan aku tunjukkan sebuah negeri di awan hanya dan terkhusus untuk kalian. Dan yang pasti, akan aku tunjukkan dunia ini begitu kecil ditangan anak-anakmu ini.

Kami sendiri. Kami kesepian.
Tapi itu semua hanya untuk menjukkan kepada kami bahwa dengan meninggalkan kami, kalian tahu kami begitu hebat. Kami begitu mandiri. Tapi bukankah itu keputusan yang sangat sengit ? Tentu saja Kalian memutuskannya bertiga tanpa pertimbangan dari kami. Tanpa kalian tiada kami. Tanpa kalian, dunia ini tak jadi penuh..."

Apakah kalian masih tetap mendengarkan ?

Aku pikir tidak... 

Tapi apakah percuma aku bicara seperti ini ?

Aku pikir juga tidak...

Masihkah kalian disini?



Ya... Didalam setiap hati kami.

Jumat, 15 Juni 2012

Lenggakkan Ku

Anggap saja aku bergurau dengan api karena ketika aku bermain dengannya, aku bisa melupakan masa-masa dimana aku didesak oleh hati yang tidak tahu arah tujuannya. Sejauh ini, api itu berbaur dengan apik. Dia memahamiku dengan ketangguhannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana akhir dari ini. Akankah dia juga akan memangsaku dengan lidahnya? Atau langsung menghanguskanku menjadi abu?

Aku sendiri mempunyai tujuan. Aku lelah menghadapi ketidakmampuannya membenahiku. Aku menahan semua kesukaran. Aku menolak semua ajakan bicara semua orang hanya untuk memperhatikan dia. Aku tidak bisa menuai apa yang telah aku tanam. Kemilau itu hanya sesaat.

Ketika memang bisa aku bicara dengan Tuhan secara langsung, aku sanggup berkomentar dihadapannya dengan bahasaku sendiri. Akan aku bahas betapa jelinya Dia membuat 'creature' dengan segala perlengkapannya. Kemolekkannya membuat mata ini terlalu menyayanginya. Cerahnya membuat hati ini begitu kaku untuk mencari tempat naungan lain.

Jalanku sudah begini. Ketika aku berjanji untuk bersatu dengan apa yang aku mau, tidak akan mudah aku lepas. Ketika aku sudah mencari dan dapat, tidak akan mudah untuk aku buang. Aku sudah banyak bermain api. Dari api yang biasa aku temui sampai api yang aku tahu memang sangat berbahaya. Caraku hanya ingin berjalan dengan baik dan kemudian mencari lemari yang bagus untuk menaruh sayatan-sayatan benang putih begitu dengan gandengannya.

Tapi jika memang itu terjadi.

Jumat, 08 Juni 2012

Pergantian Pemikiran Manusia

Tinggalku baik sejak dulu.
Semua teratur tanpa ada pengawasan batin.
Kami kesana kemari dengan bangga.
Kami menikam yang kami perlukan.
Kami membunuh yang kami anggap baik.
Kami menghormati.
Kami merawat.
Kami jadikan pedoman langkah maju kami.
Itu dulu ketika semua sama.
...
Sejauh ini tidak ada perasaan yang menghampiri dengan rasa kasihan.
Mereka hadir yang memikirkan wajahnya dunia.
Tak secuilpun menghargai bentangan mata dan ajakan bicara.
Melambai dengan benak tidak dengan lenggakkan.
Semua begitu terharu ketika kami semua bisa menyuap nasi atas nasi.
Tapi kami tersinggung ketika kami dituding sebagai penggalak nasib.
Dimana tuhan kami ?
Dimana majelis - majelis yang berpihak pada kami ?
Lihat tanah kami bernaung !
Mereka ludes habis termakan keserakahan umat-Nya.
Kehidupan mati atas penderitaan kami.
Dunia ini dipengaruhi ketidakadilan.
Kami ditelan mentah - mentah.
Banyak diantara petinggi yang mengatasnamakan kami.
Supaya mereka dapat rejeki kotor.
Dan menikmatinya tanpa tangan kami.
Yang mereka lakukan adalah menghabisi daerah kami.
Mereka memakan penghasilan kami.
Mereka membunuh masa depan kami.
Sungguh sesak...
Tidak ada bandingannya dengan binatang jalang !
Kami hidup tidak dengan uang mereka.
Kami berjalan tertatih - tatih bukan dengan keikhlasan kami.
Kami adalah pemakan batang kayu yang telah dimakan oleh pemakan buahnya.
...
Tapi disisi lain, mereka memberi udara melalui tabung lain.
Mereka memberi kehidupan kepada dunia.
Mereka mengharumkan nama kami untuk dikenang.
Mereka membuat terowangan batu untuk kami keluar.
Bukan untuk mengatasi masalah tapi memberi kami jalan.
Mereka membuat kami kagum dengan jaman.
Awal yang indah.
Menghampiri dan merebut.
Mengayomi dan menindas.
Akhir yang menggila.
Semua giras.
Mereka giras.
Semua adalah keterbelakangan kami.
Tetap terima kasih kepada santunan ilmu yang diberi.
Biar tetap mereka berpikir kami ada.
Kami mengharumkan nama untuk benua ini.
Dan kerelaan kami adalah hal yang harus dibayar lunas.
Karena ketika kami bernostalgia dengan dulunya,
sekarang kami memberikan hak milik kami



By  :  AsriTarie


Minggu, 03 Juni 2012

SALING

Kebijaksanaan bukan dimaksudkan untuk menilai seseorang dari sikap. Menurutku, ia akan merubah segala keburukan dengan cara berpikir yang sesuai dengan ahlak. Menciptakan keharmonisan diatas kecantikan duniawi. Memberikan kecupan didalam kelamnya duka. Jadi, dia benar-benar mengerti apa itu kata "saling" dalam hal positif. Berbanggalah...