Aku hanya sebuah ranting tanpa cabang
Ranjau tak lagi meledakkan tanah
Karena begitu jauh terlihat dari kaki diatasnya
Satu keyakinan bahwa dunia ini masih dalam kelamnya saat malam
Embun pagi pun berubah menjadi serbuk-serbuk kehidupan
Yang tak lagi menjadi pertanda sebuah awal
Namun saat semua awan tergantung pada lekukan puncak gunung saat siang
Itulah disaat hati ini sedikit goyah
Biru laut dan langit pun menjadi pilu
Hei, disana aku seharusnya berada
Di tengah banjirnya kesayangan
Dan dengan mudah meluap-luap
Seharusnya sekarang ini aku berdiri dihadapannya
Membicarakan betapa kalutnya perasaan ini
Meributkan tindakan-tindakan yang tidak sepadan
Ikatan ini seharusnya tidak seperti seks
Ketika sama-sama sudah berhasil mencapai klimaksnya
Dan...sudah
Tidak
Seharusnya ini menjadi darah
Menggumpal saat tidak mendapat asupan air selama 72 hari
Herannya semua itu hanya terkadang terjadi
Satu menganggap satu adalah rumit untuk dimengerti
Yang satu mengganggap satunya tidak menarik harapannya
Begitu dengan seringai bintang yang hilang karena harus menemukan cintanya di bumi
Dengan susah bintang itu turun hanya untuk mencari langkah awalnya
Begitu dapat, ia tak bisa kembali untuk bersama dengan bulan
Karena saat itu bulan belum menampakkan cahayanya karena hanya tertutup bumi
Dan kini, bintang hanya bisa merasakan bulan tanpa bisa menyentuhnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar