Rabu, 22 Agustus 2012

Hai... Selimut Nafas

Diamku mengalami keracunan
Saat tak ada dirimu, jiwa ini enggan tahu perasaan apa ini
Begitu kau datang, berdiripun aku sanggup tanpa kaki
Begitu kau menghampiri, jendela pilu tertutup rapat

Kau mengalami apa malam ini?
Kau tahu detak jantungku tak bisa terus berdetik
Tak bisa sembunyi dari aliran deras darahku
Tapi cukup memberiku tahu darimana kau datang

Dikau bila boleh kusebut
Adalah kepingan 1 perak mata uang
Tak berarti apa-apa jika aku punya triliunan jumlahnya
Sangatlah berharga jika aku punya hanya satu

Waktuku tak banyak untuk tahu siapa dirimu
Kilauan embun juga tak akan memberi tahuku
Hutangmu beribu padaku saat tak lagi kulihat bringas senyummu
Tak lagi memberi harapan nafsu

Jika kau baca ini, buka semua hatimu
Dan terima aku sebagai pelipur
Bukan sebagai tempat bernaung
Dan juga jangan jadikan aku sebagai seorang yang punya tempat spesial

Justru menghibur dirimu adalah tujuanku
Setelah tujuanku menjadi memutih bersamamu
Dengan hidup yang penuh dengan kata-kata
Dengan hidup yang penuh dengan kesempatan

Bergeming adalah kata tepat penggandeng nafas
Kau menjadikan udara disekitar kulitku begitu bergerak
Seakan mereka dengar kata hatiku yang sedang bergumam
Bersetubuh dengan nyali harapan

Jika kau baca ini, bacalah dengan hati suka
Karena aku akan percaya
Bahwa memang kaulah
Selimut nafasku dalam perjalananku untuk seterusnya

Bersamamu. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar